DSK-11

DSK-11

Jumat, 04 Mei 2012

Investasi Pasar Modal Kembali Bergairah



Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa (UE) mencapai kesepakatan untuk membantu mengatasi krisis utang Eropa, diperkirakan turut menggairahkan investor untuk menanamkan investasi di pasar modal.

KTT UE sepakat untuk meningkatkan dana talangan krisis Eropa yang semula diberikan 440 juta euro naik menjadi satu triliun euro didukung pula kesediaan China untuk membeli obligasi UE.

Analis Danareksa Sekuritas Alifa Yustisia mengatakan Indeks global mengalami penguatan setelah pemimpin Eropa mengumumkan kesepakatan, dimana sektor swasta pemegang utang Yunani akan menghapuskan 50 persen nilai kepemilikan mereka pada utang
“Kesepakatan itu menimbulkan reaksi positif terhadap pelaku asing yang melakukan pembelian saham baik di luar maupun di dalam negeri,” jelasnya di Yogyakarta, Senin (31/10/2011)
Aksi beli pelaku pasar diperkirakan akan berlanjut pada pekan depan yang akan mendorong indeks BEI naik lagi yang saat ini telah mencapai angka 3.800 poin. Itu juga terlihat dari aksi beli asing di Bursa Efek Indonesia yang terus meningkat di atas Rp 200 miliar.

Artinya, investor lokal akan terus masuk sehingga Indeks harga saham gabungan (IHSG) akan terus melkukan reli-reli penguatan. Indeks BEI pada akhir tahun ini diperkirakan akan dapat mencapai kisaran antara 4.100 poin hingga 4.200 poin.

Kepala Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Yogyakarta mengatakan bergairahnya pasar modal akan membawa nagin segar untuk pertumbuhan investor domestic yang sampai saat ini hanya mencapai 350 ribu investor kalah jauh dibandingkan Malaysia yang mencapai 5 juta.

Di Yogyakarta, jumlah investor mencapai 3.300 dan ditargetkan pada tutup tahun 2011 akan mencapai 4.000 investor. Melihat kinerja para emiten perusahaan domestic yang semakin baik dapat mendorong para investor untuk menanamkan modalnya ke pasar modal.

“Investor di tiap daerah semakin tumbuh menggembirakan dengan adanya berbagai edukasi pasar modal terutama yang menyasar kampus-kampus,” ujarnya.

Sumber :



Butuh 4 Juta Wirausahawan Untuk Serap Peningkatan Investasi



Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan diperlukan 4 juta pelaku wirausaha mandiri untuk bisa memanfaatkan peningkatan investasi yang masuk saat ini dan menjadikan Indonesia sebagai negara maju.

"Oleh karena itu, saya menginginkan pemuda-pemuda di desa atau di daerah jangan menganggur. Kita bisa melakukan sesuatu, misalnya mereka dilatih membuka bengkel atau berbisnis yang sederhana dan bisa meningkat ke usaha yang mapan," kata Hatta, dalam rilis yang diterima Tribun, Jakarta, Minggu (29/4/2012).

Hatta menambahkan untuk memenuhi target 4 juta wirausahawan mandiri tersebut, Hatta menyebutkan ada empat faktor yang sangat mempengaruhi dan harus dilakukan pihaknya yakni faktor pendidikan.

"Kedua inkubator yakni seperti memberikan pelatihan dan pendampingan. Baru kemudian permodalan kemudian aksesnya seperti KUR. Serta mengkolaborasikan dengan usaha yang sudah maju perusahaan besar," jelasnya.

Hatta pun berjanji kepada ratusan calon wirausaha muda yang berhasil membuat bisnis plan terpilih yang mengikuti pelatihan akan membantu mencarikan investor.

Hatta mengatakan, upaya meningkatkan minat berwiraswasta telah di mulai dengan melakukan pemerataan investasi ke seluruh wilayah sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat atau pengusaha lokal. Pemerataan investasi melalui berbagai kebijakan memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan.

Hal tersebut terlihat dari realisasi investasi luar Jawa hampir mendekati separuh dari total realisasi investasi pada periode ini. "Kami yakin dengan percepatan pembangunan infrastruktur termasuk penyediaan listrik dan gas akan terjadi peningkatan dan penyebaran investasi yang lebih besar di masa mendatang. Ini merupakan peluang sekaligus tantangan generasi muda untuk berwiraswasta," ungkap hatta.

Lebih lanjut, Hatta mengatakan realisasi invetasi yang terus meningkat di negeri ini harus mampu dimanfaatkan generasi muda Indonesia. Sehingga generasi muda bangsa ini tidak menjadi penonton di negeri sendiri. Melainkan menjadi tuan di negerinya sendiri.
Sumber :

Bank Indonesia raih penghargaan dari "Asian Bankers"



Bank Indonesia meraih penghargaan dari Forum Asian Bankers sebagai regulator terbaik dalam hal pengaturan problem sistemik dan kehati-hatian (systemic and prudential) industri perbankan di tahun 2012.

Penghargaan itu diterima oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad, dalam Forum The Asian Bankers di Bangkok, Thailand, Rabu malam.

Penghargaan ini diberikan kepada BI atas pencapaiannya mengarahkan industri perbankan Indonesia menghadapi aturan standar internasional dalam beberapa waktu belakangan ini, serta penanganan BI menghadapi kondisi perekonomian global saat krisis yang dapat berdampak sistemik.

Muliaman menambahkan penghargaan tersebut juga diberikan atas kemampuan BI merespon tantangan yang muncul dalam beberapa krisis ekonomi dunia yang terjadi, dan mengakui kebijakan yang diterapkan di Indonesia akhirnya bisa mewujudkan industri perbankan yang sehat dan punya daya tahan, serta berbagai pencapaian yang terbaik di Asia.

"Jika dibandingkan negara tetangga, indikator keuangan perbankan kita seperti CAR, NPL, kredit, dan pertumbuhan aset itu semua paling tinggi didukung faktor fundamental yang juga kuat karena penerapan aturan prudential yang cukup baik," katanya.

Menurut Muliaman, meski sebagian perbankan mengeluhkan persyaratan regulasi BI yang ketat, tetapi jerih payah itu membuat industri perbankan secara keseluruhan memiliki daya tahan terhadap krisis atau shock dari waktu ke waktu semakin baik.

"Sekarang kita itu ibarat punya anti body yang luar biasa, yang mampu menahan krisis, apalagi dengan rasio kecukupan modal dan likuiditas yang banyak," katanya.

Forum Asian Bankers memberikan penghargaan kepada BI setelah mereka mengamati perkembangan perbankan dan perekonomian di Indonesia seperti tingkat NPL kredit perbankan, rasio kecukupan modal, dan kondisi likuiditas perbankan.

Sementara Forum Asian Bankers merupakan pertemuan tahunan para pelaku industri keuangan dunia yang menilai perkembangan industri tersebut di Asia dan kali ini dihadiri sekitar 1.000 perwakilan sejumlah perusahaan keuangan, perbankan dan bank sentral di Asia, Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Amerika Latin.

Sumber :

Pemerintah akan naikkan batas penghasilan tidak kena pajak



Pemerintah berencana menaikkan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) bagi pekerja, dari semula Rp15, 8 juta menjadi Rp24 juta per tahun.

"Pemerintah sudah berketetapan dan ini tengah diajukan ke DPR sehingga semula penghasilan tidak kena pajak batasnya adalah Rp15,8 juta per tahun, kita naikkan menjadi Rp24 juta per tahun sehingga mereka yang penghasilannya dibawah itu tidak perlu membayar pajak (pajak pendapatan)" kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meresmikan Rusunawa di Batam, Jumat.

Presiden mengatakan hal tersebut merupakan upaya pemerintah untuk meringankan beban pekerja, terutama untuk mereka yang berpenghasilan kurang dari Rp24 juta per tahun.

Sementara, Kepala Negara juga menyatakan pemerintah terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup para pekerja.

Selain itu, pemerintah juga mengharapkan hubungan antara pengusaha dan pekerja terpelihara dengan baik sehingga iklim dan pertumbuhan ekonomi selalu terjaga.

Sumber :

Norwegia lirik peluang investasi migas di Indonesia



KBRI Oslo bekerjasama dengan perusahaan minyak nasional Norwegia, Statoil menyelenggarakan acara Indonesia Day, di kantor Stavanger dan Oslo, Norwegia.

Antusiasme terhadap acara Indonesia Day terlihat dari banyaknya pegawai Statoil yang hadir dalam acara tersebut, ujar Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI Oslo, Wening Esthyprobo, kepada ANTARA London.

Dikatakannya acara yang digelar baru baru ini adalah dalam upaya mengenalkan Indonesia kepada para pegawai Statoil di Norwegia, yang selama ini hanya mengenal Indonesia sekilas saja. Menurut Wening Esthyprobo, Statoil menilai Indonesia memilki potensi dan peluang investasi minyak dan gas yang semakin menarik.

Sementara itu Dubes RI untuk Norwegia, Esti Andayani, mengatakan kerjasama antara Indonesia dan Norwegia di bidang energi menunjukkan tren peningkatan yang cukup tinggi, di antaranya kerjasama Pertamina dan Statoil yang dimulai sejak 2007, serta kerja sama Tinfos AS dan KF Fjellikring di bidang hydropower.

"Keberhasilan Indonesia dalam memerangi terorisme, penanggulangan bencana, komitmen tinggi terhadap good governance, pemberantasan korupsi, dan peningkatan pendidikan mendukung naiknya daya tarik Indonesia di mata investor asing, termasuk Norwegia," ujar Dubes Esti.

Presiden Direktur Statoil Indonesia, Tor Fjaeran, menyatakan, "Indonesia merupakan negara yang memilki sejarah migas yang panjang sejak 1885, jauh sebelum Norwegia yang baru mulai pada 1970an. Karenanya banyak yang bisa dipelajari dari Indonesia."

Ditambahkannya, "Indonesia adalah negara yang menjanjikan. Fokus investasi Statoil di Indonesia adalah di sektor gas, terutama di lepas pantai bagian timur Indonesia, dan Statoil berencana untuk terus menambah lokasi pengeboran setiap tahunnya.

Statoil mempunyai pengalaman panjang serta keahlian eksplorasi lepas pantai, sebagaimana eksplorasi di Norwegia, sangat tepat untuk Indonesia."

Dikatakannya investasi Statoil di Indonesia terus berkembang, diharapkannya pegawai Statoil dapat mengenal Indonesia secara lebih mendalam. Sejak membuka kantor di Indonesia, wilayah kerja eksplorasi Statoil dari dua telah berkembang menjadi 8 lokasi.

"Dengan bertambahnya lokasi operasi Statoil, maka semakin banyak kepentingan dan staf mereka di Indonesia, sehingga mereka anggap acara ini diperlukan," ujarnya.

Acara Indonesia day diisi dengan pengenalan budaya Indonesia lewat tari, lagu daerah, serta makanan khas Indonesia, sampai dengan acara presentasi dan diskusi.

Para penari Indonesia membawakan tari Panji Semirang, Bajidor Kahot dan tari Topeng, yang mempesona para hadirin, diselingi penampilan band yang membawakan lagu-lagu daerah. Hadirin juga dimanjakan dengan nasi goreng dan sop buntut dan permen jahe yang laris manis mereka serbu.

"Saya sangat menyukai nasi goreng ini," ujar salah satu pegawai Statoil yang hadir, yang dengan sabar mengantri "baru disajikan langsung habis terus, sehingga chef harus masak lagi," tambahnya. (ZG)

Sumber :